Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan

Foto : Pulau Satonda, (TripsTrus)
Sebelumnya
Mengenang Bencana April 1815 (Bagian 1)
Mengenang Bencana April 1815 (Bagian 2) 

Labuan Beranti Dan Bukit Kima

Penulsi : Alan Malingi
Tiga tempat ini berdekatan.Ada di desa Nanga Miro kecamatan Pekat Kabupaten Dompu. Tempat ini sangat cocok  untuk bertamasya. Pasirnya yang putih, banyak perahu-perahu nelayan yang bersandar dan mencari ikan, dan dapat melihat pulau Moyo di sisi barat. Di sebelah utara Beranti, ada bukit dan hamparan pasir putih, namanya so Fanda. Di bukit ini banyak terdapat keong raksasa atau Kima. Kima itu besar-besar. Menurut ahli, kima itu terjadi karena proses alam jutaan tahun yang lalu. Tapi sayang, kima-kima itu sudah banyak yang diambil orang terutama yang besar-besar seperti meja. Memandang ke utara kita akan melihat pulau Satonda. Hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit menuju pulau Satonda.

Pulau Satonda

Dari puncak Gunung Tambora, pandangan mata  lebih leluasa pemandangan kawah, padang pasir, samudra lautan, dan Pulau Satonda. Pulau Satonda sangat indah dengan pemandangannya yang masih alami, di tengah-tengah pulau tersebut terdapat danau yang jernih dan dikelilingi oleh tebing-tebing dari perbukitan yang masih alami. Pulau Satonda dengan ketinggian antara 0 sampai 300 meter di atas permukaan laut merupakan taman rekreasi (recreation park) dengan wilayah seluas 1.000 Ha mempunyai ciri-cirinya yang unik.

Kenapa dinamakan Satonda ? ada dua versi tentang ini. Yang pertama Maka pulau tersebut dinamai Pulau Satonda dari kata tonda yang berarti tanda/jejak karena jarak pulau ini dengan daratan cukup dekat sehingga dinamakan satonda atau selalangkah. Kedua, Pulau tersebut dapat dilihat dari puncak Gunung Tambora, tampak dari atas berbentuk telapak kaki kanan manusia, sehingga disebut dengan nama Satonda.
Pulau kecil ini bukan hanya indah, tapi juga penuh mitos dan legenda. Konon sejarah Bima bisa dilacak dari pulau ini karena Sang Bima, pendiri kerajaan Bima, sempat berlabuh di Satonda. Dia bertemu dengan seekor Naga bersisik emas. Naga itu ternyata jelmaan dari seorang Dewi dari kayangan. Dari sinilah, asal muasal keturunan raja-raja Bima.

Air Terjun Sori Marai

Di sisi utara gunung Tambora ada sebuah sungai yang lebar dan sangat bagus untuk mandi. Namanya Sori Marai. Air sungai ini mengalir sepanjang tahun. Tidak pernah kering. Airnya yang bersih dan jernih menjadi tempat persinggahan bagi orang-orang yang ke Tambora. Di sisi barat  juga ada sebuah air terjun yaitu air terjun Oi Marai.Ada juga yang menyebut dengan air terjun Bidadari.  Tempatnya memang agak jauh dari jalur jalan utama yang ke Tambora.. Air Terjun Sori Panihi berada di kaki utara gunung Tambora.Saat ini air terjun Sori Panihi telah menjadi destinasi wisata alam yang ramai dikunjungi. Lokasi di sekitar air terjun ini juga sangat cocok untuk kemah. Dari Air Terjun Sori Marai juga menjadi pos 1 bagi para pendaki menuju puncak Tambora. Kegiatan Teka Tambora selalu mendaki melalui jalur ini.

Tradisi Pasar Senin Dan Pasar Minggu

Di Kadindi dan Calabai ada pasar senin. Kemudian di Calabai ada yang namanya Pasar Minggu.Jika ke Tambora pada hari-hari itu maka kita akan bertemu dengan pasar Senin dan Pasar Minggu. Apalagi dari pagi hingga siang hari cukup ramai. Pasar senin hanya ada pada hari senin dari pagi hingga siang hari waktu zuhur. Pasar minggu adanya hanya pada hari minggu dari pagi hingga siang hari. Penjual dan pembeli datang dari Mbojo,Dompu,sampai pulau Moyo di sebelah barat Tambora. Mulai hari sabtu,perahu dari pulau Moyo berdatangan membawa pisang, buah-buahan, beras, ayam, sapi,kambing, ikan dan berbagai hasil bumi yang akan dijual. Begitu juga yang datang dari Mbojo membawa barang untuk dijual. Tradisi ini sudah ada sebelum letusan gunung Tambora. Pembauran antara warga Bali,Lombok, Moyo, Dompu, Mbojo sudah terjalin lama dan bahkan ada yang ketemu jodoh di tempat itu meski pertemuan hanya sekali seminggu.

Kebun Dan Pabrik Kayu Putih

Setelah sekian vacum, PT. Sanggar Agro mulai menanam tanaman Kayu Putih di Tambora Utara yang masuk dalam wilayah kabupaten Bima. Saat ini  telah beroperasi  perusahaan minyak kayu putih terbesar di dunia yang dikelola  oleh PT Sanggaragro Karya Persada (SKP). Kapasitas mengolah daun minyak kayu putih mencapai 60 ton perhari. Direncanakan perusahaan ini akan mampu mengolah 200 ton daun kayu putih sehari. Hanya saja, perusahaan ini belum menggunakan merek sendiri karena produksinya disuplai untuk kebutuhan minyak kayu putih cap Elang dan suplier lain di Surabaya. Direncanakan, perusahaan ini akan menggunakan nama paten Minyak Kayu Putih Gunung Tambora.

Demikianlah tulisan bersambung dalam rangka mengenang letusan dahsyat Tambora 1815. Semoga kita dapat mengambil ibrah dari peristiwa yang terjadi dua abad silam. Dari rangkaian peristiwa itu tentu menjadi sebuah perenungan bahwa kehidupan ini irama, suka dan duka, sengsara dan bahagia. Letusan Tambora menjadi pengingat bahwa manusia dan mahluk lainnya hanyalah nokhtar kecil yang tidak memiliki kekuatan dalam jangkauan kekuasaan pemilik alam, Allah SWT.

Semoga tulisan bersambung ini bermanfaat dan terima kasih bagi yang telah membaca,mengkritik dan memberikan apresiasi.



Foto : Pesona Travel (Alan Maling)
Jika mendapati senja di sepanjang savana tambora mulai dari doro peti hingga doro ncanga, berhentilah sejenak. pandanglah ke hamparan savana dan ratusan ekor sapi yang sedang merumput. Dengarlah alunan simphony yang lahir dari setiap lonceng di leher sapi-sapi itu. Anda akan mendengar irama tang ting tung tong yang bersahut sahutan membentuk simponi Dengan irama khas savana.

Sebelumnya
Mengenang Bencana April 1815 (Bagian 1)


Simponi Senja  Savana Tambora.

Penulsi : Alan Malingi
Salah satu sudut keindahan Tambora adalah Padang Savana baik yang terhampar di wilayah selatan maupun utara. Savana Doro Ncanga kecamatan Pekat Kabupaten Dompu adalah yang paling luas dan rata. Di musim hujan, Savana ini tampak hijau sejauh mata memandang. Di musim kemarau tampak coklat dan gersang. Tetapi kegerssangan pun memiliki keiunikan dan keindahan tersendiri.

Jika mendapati senja di sepanjang savana tambora mulai dari doro peti hingga doro ncanga, berhentilah sejenak. pandanglah ke hamparan savana dan ratusan ekor sapi yang sedang merumput. Dengarlah alunan simphony yang lahir dari setiap lonceng di leher sapi-sapi itu. Anda akan mendengar irama tang ting tung tong yang bersahut sahutan membentuk simponi Dengan irama khas savana. ternyata bunyi yang berbeda beda dari lonceng sapi itu juga menunjukkan bahwa sapi sapi itu tidak satu pemiliknya meski ngerumput bersama.

Ketika senja mulai gelap datang.lah coboy savana dengan sepeda motor sambil memegang cambuk menggiring sapi sapi sapi itu ke.kandang atau tempat khusus yang disiapkan untuk peristirahatan sapi di malam.hari. Malam pun tiba, simphony senja semakin pudar, semakin hilang bersama terbitnya sang bulan.

Mada Oi Tampuro Dan Hodo

Mata air Oi Tampuro merupakan obyek wisata sumber mata air yang sangat jernih dan debit air yang cukup besar, sehingga memebrikan nuansa yang berbeda pada obyek wisata ini bagaikan muara di tengah padang gersang yang mampu memberikan kasejukan dan kesegaran alami. Mata air  Tampuro jaraknya kurang lebih 100 km dari Ibukota Kabupaten Bima dan 15 km dari Ibukota Kecamatan Sanggar, Lokasi yang sangat strategis dan dapat dijangkau dengan kendaraan bermotor baik roda 2 (dua) maupun roda 4 (empat) bdengan jarak tempuh kurang lebih 3 jam.

Keyakinan masyarakat setempat tentang mata air ini cukup lama berkembang. Jika mandi dan meminum langsung air ini dari celah bebatuan adalah obat awet muda dan menyembuhkan segala penyakit. Disamping itu, masyarakat Sanggar berasumsi bahwa Mata Air Tampuro dan Mata Air Hodo di Kempo Dompu memiliki sumber yang sama yaitu dari bekas kerajaan Tambora yang telah tertimbun akibat letusan dahsyat Tambora sejak tahun 1815.

Doro Bente

Nama Doro Bente sudah lama dikenal oleh masyarakat. Doro Bente terletak di sisi selatan jalan padang savana doro Ncanga. Doro adalah gunung. Bente adalah benteng. Doro Bente telah lama menjadi buah tutur masyarakat bahwa di sekitar tempat itu adalah benteng pertahanan yang telah tertimbun material letusan Tambora.

Ternyata apa yang menjadi tutur masyarakat tentang Doro Bente memiliki korelasi dengan Phillip Droge seorang jurnalis Belanda yang memiliki peta lama yang dibuat Belanda pada tahun 1794. Peta tersebut memuat sebuah benteng pertahanan.Phillips mengirimkan peta lama yang dibuat Belanda tahun 1794.

Peta dari jurnalis Belanda itu kemudian ditindaklanjuti dengan serangkaian penelitian. Pada tahun 2015 para arkeolog dari Balai Arkeologi Denpasar mulai melakukan penelitian. Mereka menemukan ada singkapan batu pasir yang menyerupai benteng. Dari situlah mulai dilakukan pengembangan dengan menggali informasi dari masyarakat sekitar dan pekerja pasir yang mengatakan di Doro Bente ada benteng yang masih berdiri kokoh.

Para Arkeolog telah menemukan mata rantai yang kuat antara tutur masyrarakat dengan peta Philip Droge 1794. Hasil penggalian sementara menunjukkan bahwa lokasi itu adalah benteng pertahanan sebuah kerajaan. Jika ditilik dari lokasi penemuan, maka besar kemungkinan benteng itu adalah benteng Kerajaan Pekat yang telah hilang akibat amukan Tambora.

Sarae Nduha

Di sebelah barat Doro Bente sekitar 10 menit perjalanan menuju Tambora, terdapat tempat wisata yang disebut Sarae Nduha. Sarae berarti pasir. Nduha adalah ambruk. Sarae Nduha sebenarnya adalah fenomena pasir ambruk. Hamparan pasir setinggi sekitar 6 meter telah menimbun pantai di selatan savana Doro Ncanga. Sarae Nduha telah menjadi destinasi wisata favorit di wilayah kecamatan Pekat Dompu.

(Bersambung)



Foto : Anonim (Alan Malingi)
Tambora tidak hanya dikenal dengan letusan dahsyatnya, namun kaya akan pesona dan komodii andalan yang sangat penting bagi pengembangan sosial ekonomi, pariwisata dan budaya serta sektor lainnya. 


Mengenang Bencana April 1815 (Bagian 1)


Kepingan Surga Dari Bencana 

Penulis : Alan Maling
Setelah dua abad terlewati, Tambora menyapa dunia dengan cara yang berbeda. Tambora menyimpan potensi dan pesona yang luar biasa bagi peradaban ummat manusia masa kini. Tambora kini seperti kepingan surga. Ya..kepingan surga dari bencana. Berikut rangkuman pesona dan potensi Tambora dan sekitarnya.

Kaldera Tambora, Moti La Halo Dan Dae La Minga

Puncak Tambora menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Tiba di puncak mata menyapu sampai berbatas lengkung langit. Danau dua warna pada ketinggian 1.800 meter terbentang dalam permukaan tebing kaldera yang terjal hampir tegak lurus. Di bagian lain, mata mampu menangkap seluruh wilayah NTB sampai ke panorama yang membentuk lombok dengan puncak rinjaninya yang kokoh. Sumbawa dengan teluk saleh yang biru merangsang serta beberapa pulau- pulau kecil seperti Moyo dan Satonda lengkap dengan cantiknya laut flores di ujung yang lain.

Kaldera gunung Tambora yang diperkirakan sepanjang 5 Kilometer (hampir sama luasnya dengan Kota Bima). Orang orang Sanggar dan Tambora menyebutnya dengan Moti La Halo. Entah kenapa disebut moti la halo. Moti berarti laut.Sedangkan La Halo kira kira berarti pengap dan panas.

Dalam legenda masyarakat Sanggar, putri raja Sanggar Dae La Minga yang cantik jelita itu diperebutkan oleh para pangeran dari berbagai negeri. Untuk menghindari peperangan dan pertummpahan darah, maka dae la minga dibuang ke Moti La Halo yaitu di kawah gunung Tambora. Kisah tentang kecantikan Dae La Minga juga dilukiskan dalam senandung Inde Ndua yang berarti tiada duanya. Sedangkan kisah perjalanan Dae La Minga dari kerajaan Sanggar menuju Moti La Halo dilukiskan dalam tarian dan senandung Tija Lante.

Kecantikan Dae La Minga sungguh tiada duanya. Sebelum dibuang ke Moti La Halo, Dae La Minga menitipkan pesan kepada para gadis kerajaan Sanggar. " Ntika mpa di wa a ba nahu, tupa ra ambi di wi i ba nggomi doho" ( kecantikan akan kubawa serta, kesopanan dan keramah tamahan kutitipkan untuk kalian).

Kopi Tambora

Tambora tidak hanya dikenal dengan letusan dahsyatnya, namun kaya akan pesona dan komodii andalan yang sangat penting bagi pengembangan sosial ekonomi, pariwisata dan budaya serta sektor lainnya. Salah satu komoditi andalan di lereng Tambora adalah Kopi Tambora. Pada 1930 seorang pengusaha berasal dari Swedia, Gosta Bjorklund membuka perkebunan kopi seluas 56.000 hektare di lereng Barat dan Utara Gunung Tambora. Pada masa itulah, kopi Tambora mulai terkenal hingga mancanegara. Perkebunan peninggalan kolonial Belanda ini merupakan salah satu dari tiga kawasan sentral produksi kopi yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sejak itu, banyak orang-orang Jawa yang dipekerjakan di areal perkebunan Kopi Tambora. Sehingga tidak mengherankan jika nama camp-camp di areal ini bernuansa Jawa seperti Afdelin Sumber Rejo dan Afdelin Sumber Urip. Perkebunan Kopi Tambora adalah kawasan perkebunan kopi yang terletak di lembah bagian Utara Gunung Tambora pada ketinggian tempat 700 meter dari permukaan laut.Ada juga di sisi barat dan selatan yang masuk wilayah Kabupaten Dompu

Pada tahun 1977 perkebunan Kopi Tambora di kelola oleh PT. Bayu Aji Bima Sena (PT.BABS) Jakarta selaku pemegang Hak Guna Usaha (HGU) sesuai keputusan Mentri Dalam Negeri Nomor : 21/HGU/DA/77 tanggal 19 juni 1977 dengan memperkerjakan karyawan sebanyak 192 orang, namun sejak tahun 2001 PT. BABS tidak aktif lagi  mengelola kebun kopi tambora yang ditandai dengan ditinggalkan dan ditelantarkannya perkebunan kopi beserta aset dan karyawan yang ada di dalam nya. HGU PT. BABS berakhir pada tanggal 31 Desember 2001 dan tidak diperpanjang lagi sampai saat ini meskipun pihak PT. BABS pernah mengajukan perpanjangan HGU pada tanggal 8 maret 2002.

Tahun 2002 Pengelolaan Perkebunan Kopi Tambora diambil alih oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Bima (melalui Dinas Perkebunan Kab.bima)  dalam rangka penyelamatan asset perkebunan dan karyawan agar tidak hilang mata pencahariannya. Biaya pengelolaan kebun kopi tambora bersumber dari APBD Kab. Bima dan APBN.

Edelweis, Bunga Keabadian

Di lereng dan puncak Tambora juga tumbuh bunga Edelweis. Tanaman langka ini menjadi salah satu koleksi terpenting gunung Tambora disamping tanaman lainnya seperti Molucas Dua Banga, Kalango, serta berbagai jenis flora lainnya. Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan dan lebah terlihat mengunjunginya.

Edelweis atau Edelweis Jawa (Javanese edelweiss) juga dikenal sebagai Bunga Abadi yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian maksimal 8 m dengan batang mencapai sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m. Tumbuhan yang bunganya sering dianggap sebagai perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian ini sekarang dikategorikan sebagai tanaman langka.

Kekayaan yang dimiliki Tambora sudah selayaknya dijaga dan dirawat untuk kepentingan yang jauh lebih besar daripada sekedar ambisi dan keserakahan manusia mengeksplorasi alam dan sisa peninggalan Tambora. Dalam beberapa decade mamang hutan Tambora sudah banyak yang dijarah. Oleh karena itu dibutuhkan upaya sungguh-sungguh dari semua kalangan untuk mengamankan Tambora agar tetap eksotik dan terjaga dari generasi ke generasi.

( Bersambung )



Foto : Anonim (Alan Malingi)
Sebenarnya Heraldur Sirgudson bukanlah orang pertama yang menemukan sisa peradaban Tambora. Masyarakat setempat telah banyak menemukan sisa peradaban itu dari hasil penggalian dan eksavasi yang dilakukan di sekitar hutan di kawasan Tambora. Masyarakat menemukan benda-benda berupa keramik, keris, alat rumah tangga dan lain-lain.


Sebelumnya :
Mengenang Bencana April 1815 (Bagian 1)


Misteri Peradaban Mulai Terkuak

Penulis : Alan Malingi
Prof. Heraldur Sirgudson dari Rhode Island University , USA menyebut Tambora sebagai  “ Pompeii Dari Timur “. Pompeii adalah sebuah kawasan di Italia yang hancur luluh tertelan letusan dahsyat gunung Vesuvius  tahun 79 Masehi. Namun letusan Tambora dua kali lebih dahsyat dari Vesuvius. Temperatur awan panas (Wedus Gemble) tercatat 800 derajat. Sementara Vesuvius mencapai 500 Derajat. Kini Prahara tersebut menyimpan berjuta kenangan yang terkubur bersama pasir letusannya. Berbagai temuan telah menjelaskan kepada kita yang hidup di abad ini tentang sebuah peradaban yang hilang.

Sebenarnya Heraldur Sirgudson bukanlah orang pertama yang menemukan sisa peradaban Tambora. Masyarakat setempat telah banyak menemukan sisa peradaban itu dari hasil penggalian dan eksavasi yang dilakukan di sekitar hutan di kawasan Tambora. Masyarakat menemukan benda-benda berupa keramik, keris, alat rumah tangga dan lain-lain.

Berdasarkan temuan masyarakat itu, maka Heraldul Sirgudson dan rekan-rekannya pada tahun 2004 setelah mengikuti seorang pemandu tur yang mengatakan, warga setempat telah menemukan peninggalan kuno di daerah itu. Dari hasil penggalian ditemukan sisa-sisa perunggu, tembikar dan kaca.Letusan Gunung Tambora mengundang perhatian besar karena terkait dengan masalah perubahan iklim. Temuan Heraldur ini diliput khusus oleh Tabloid Kilas pada tahun 2004.

Perempuan Cantik Di Teras Rumah

Sejak penemuan itu, Tim Arkeologi Nasional maupun Tim Arkeologi Bali serta para peneliti mulai melakukan penelitian dan penggalian di Tambora. Saya dengan beberapa rekan mendapatkan kehormatan berkunjung pada saat penggalian itu berlangsung pada pertengahan Juni 2014, setahun sebelum perayaan Dua Abad Tambora Menyapa Dunia yang dihadiri oleh Presiden Jokowidodo.
Berikut cerita perjalanan saya ke situs peradaban Tambora yang telah dimuat di blog Romantika Bima pada tanggal 24 Juni 2014.
 
Selepas shalat Jumat di Masjid desa Pancasila Kabupaten Dompu, saya dan tiga orang rekan menyewa motor ojek menuju pesanggrahan dan lokasi penggalian situs sisa peradaban Tambora. Sepanjang perjalanan, meski menerjang jalan-jalan berlubang, agak licin dan rusak kami tetap bersemangat karena penasaran melihat dari dekat pesanggarahan Tambora dan lokasi situs. Sepanjang jalan, suasana cukup sejuk dan dingin di antara kebun kopi Tambora yang bebuah lebat. Setelah 30 menit menjelajahi  hutan di lereng barat gunung Tambora itu, kami tiba di sebuah pertigaan yang landai.

Di areal ini kami menemukan bekas perpustakaan, sebuah masjid dan bangunan bekas pabrik kopi Tambora. Ada juga dua rumah semi permanen yang dihuni warga transmigran asal pulau lombok. Di sebelah barat masjid terdapat sebuah rumah semi permanen juga. Salah seorang teman menanyakan arah ke pesanggarahan Tambora kepada salah seorang wanita yang duduk di depan rumah itu. Dari jauh saya melihat arah tangannya menunjuk ke arah timur. Lalu kami pun mengikuti dan tancap gas menuju arah yang ditunjuki tadi.

Sudah 30 menit kami mengarungi hutan dan jalan setapak yang terus menanjak, tidak satupun perkampungan kami lihat. Bingung mulai menyelimuti, lalu kami putuskan untuk beristirahat.Sesaat kemudian, kami melihat dua orang wanita menjunjung kayu bakar. Kami dekati keduanya untuk bertanya arah ke pesanggarahan Tambora. Ternyata kami sudah jauh ke arah timur, dan kami disuruh kembali karena pesanggarahan tidak jauh dengan kompleks bekas perusahaan kopi Tambora tadi. Kami pun kembali dan menemukan jalur tanjakan menuju pesanggarahan.

Karena perut yang menari keroncongan, kami pun memutuskan untuk memasak nasi, mie instan dan telur yang kami bawa dari pancasila.Hanya dua telur yang utuh, tiga telur pecah dan merambat ke pakaian di dalam Tas Fahru Rizki.  eh, ternyata saya lupa ayam goreng dan rendang yang dibeli di cabang Banggo.Setelah makan siang yang sudah kesorean kami bertemu dengan pak Suparno. Sambil menikmati suguhan kopi Tambora yang maknyod, kami berbincang dengan pak suparno.

Salah seorang bekas karyawan PT.Bayu Aji Bimasena,sebuah perusahaan yang mengelola perkebunan kopi tambora. Pak Suparno menginjakkan kaki di Bima sejak tahun 80 an dan sudah beranak cucu di kawasan Tambora. Lelaki brewok itu sudah menyatu dengan alam kopi tambora meskipun  mulai tahun 2014 dirinya tidak lagi mendapatkan SK sebagai penjaga kebun kopi Tambora dari dinas Perkebunan Kabupaten Bima. Penggantinya Pak Wardoyo pun belum bersedia naik ke pesanggarahan sebagai pengganti Suparno karena pria asal Rembang ini belum mau turun dari kawasan Pesanggarahan.

Saat ini kawasan Pesanggarahan Tambora sedang dibangun beberapa bangunan semacam baruga, taman dan beberapa kamar seperti kos-kosan. Sementara kolam renang  tua peninggalan Belanda masih kosong tanpa terisi air. Pak Suparno menceritakan bahwa pada tahun 80 an luas areal kebun kopi Tambora lebih kurang 500 Ha, namun saat ini sudah berkurang sekitar 350 Ha. Di dalam pesanggarahan terdapat koleksi hasil temuan artefak sisa peradaban Tambora. Pak Suparno menunjukkan beberapa hasil penggalian yang ditemukan di kompleks Sori Sumba seperti potongan bambu yang terbakar, potongan kayu yang terbakar, beberapa keramik dan pecahan keramik, Guci,beberapa peludahan dari bahan kuningan, lapean bahan porselin, Wadu Lo’i sebagai alat untuk menumbuk obat.

Setelah 30 menit berbincang dengan Suparno dan mengindentifikasi temuan sisa peradaban Tambora yang terus digali sejak 4 tahun silam, kami diantar menuju lokasi penggalian situs di Sori Sumba. Jaraknya hanya sekitar 15 menit perjalanan dengan motor melewati jalan setapak di celah kebun kopi dan hutan Tambora. Di lokasi penggalian kami bertemu Tim Arkeolog Nasional, pak Sony Wibisono dan 10 orang anggotanya. Di dalam lubang 10 x 10 meter dengan kedalaman 3,5 meter itu tampak dua buah tiang rumah yang terbakar, tapi masih utuh. bambu yang terbakar yang diduga bekas pagar, lumpang/lesung, bedek yang sudah terbakar, 6 buah batu yang dulu merupakan alas tiang rumah, batu bekas tungku, beberapa pecahan keramik, bajak dan tulang binatang.

Kami sempatkan untuk mengabadikan suasana penggalian dan mengorek informasi dari para Arkeolog Nasional . Pak Sony mengemukakan, penggalian situs selama 4 tahun terakhir difokuskan di sektiar kawasan Sori Sumba. Diperkirakan dibawah itu adalah bekas pemukiman masyarakat Tambora 200 tahun silam. Hal itu dibuktikan dengan adanya sungai Sori sumba yang mengalir di sekitar areal itu.Penggalian itu bukan tanpa kendala, menuurut Pak soni, kondisi temuan yang sudah menjadi arang dan sebagian hancur akan sulit untuk proses konservasi. Jika diangkat, maka temuan itu akan hancur karena rentan terhadap oksigen. Untuk itulah, Tim Arkeolog menggandeng pakar konservasi Candi Borobudur, pak Nahar. Sekitar satu jam kami berada di situs Tambora. Banyak persoalan yang kami bahas dengan tim Arkeolog, termasuk rencana pembangunan Eko Museum tahun 2015, pameran situs peradaban Tambora dan penyusunan buku Jelajah Kekayaan Tambora baik dari sisi sejarah, arkeologi,vulkanologi,geologi, potensi dan kepariwisataan.Karena sejak 4 tahun terakhir penggalian cukup intensif dilakukan baik dari Arkenas maupun dari Balai arkeologi Denpasar.

Meninggalkan Situs dan bongkahan tanah di sekitar Sori Sumba, sepertinya membisikkan sesuatu, membisikan tangis, membisikan harapan, membisikan tanya. Sedang apa dikau wahai leluhurku. apa yang telah terjadi dengan kalian sehingga harus terkubur hidup-hidup. Kini peradabanmu mulai terungkap meski baru secuil harap yang terhampar. Tambora, sebuah pearadaban yang terkubur mulai menyapa dunia.

( Bersambung )

Foto  : Acara Nyongkolan warga Lombok Di desa Kadindi Kecamatan Pekat Dompu. (Fahru Rizki)

Sebelumnya :
Mengenang Bencana April 1815 (Bagian 1)


Sejarahwan Helius Syamsuddin dalam artikelnya " Letusan Tambora Dampak Lokal Dan Global " menyebut setelah letusan dahsyat Tambora, wilayah itu menjadi The Blessing In Disquess atau rahmat Tuhan Yang Tersembunyi bagi kerajaan di sekitarnya. Pemerintah Hindia Belanda membagi wilayah kerajaan pekat dan Tambora yang tidak lagi berpenghuni. Wilayah Pekat di sebelah selatan dan sebagian barat diberikan kepada kerajaan Dompu. Wilayah Tambora sebagian di sebelah barat dan utara diserahkan kepada kerajaan Sanggar.

Penulsi : Alan Malingi
Tambora dan Pekat meniti peradaban baru. Wilayah dua kerajaan itu telah dimiliki kerajaan tetangganya, Dompu dan Sanggar. Hendric Zolinger melakukan pendakian Tambora pada tahun 1854. Dia adalah pendaki pertama setelah 39 tahun Tambora meletus dahsyat. Pada perkembangan selanjutnya, kondisi politik sosial dan budaya di kawasan Sumbawa Timur berubah . Pada tahun 1926 kerajaan Sanggar bergabung dengan kerajaan Bima. Wilayah Manggarai pun lepas dari pangkuan Bima setelah lebuh dari 4 Abad Manggarai menjadi bagian dari wilayah Bima.

Bergabungnya kerajaan Sanggar dengan Bima membawa dampak bagi meluasnya wilayah kerajaan Bima ke sebelah barat yang melewati kerajaan Dompu. Seluruh wilayah kerajaan Sanggar menjadi bagian dari wilayah kerajaan Bima, termasuk Tambora. Pada tahun 1934, Dompu pun digabungkan dengan Bima. Sultan Sirajuddin ( Manuru Kupa) dibuang ke Kupang. Dompu dijadikan dua kejenilian yaitu Kejenelian Dompu dan Kempo. Dengan adanya penggabungan ini secara otomatis seluruh wilayah Dompu dan Sanggar masuk dalam wilayah Kerajaan Bima. Pada tahun 1947, Dompu meminta otonomi dari kesultanan Bima. Permintaan itu dikabulkan. Cucu Manuru Kupa yaitu Sultan Tadjul Arifin Sirajuddin dilantik sebagai sultan Dompu dan menjadi Bupati Dompu pertama pada tanggal 12 September 1947.

Pelantikan Sultan Muhammad Tadjul Arifin Sirajuddin dilakukan oleh Imam Kesultanan Dompu dengan mengangkat sumpah di atas kitab suci Alquran. Pelantikan pada hari Jumat pagi dihadiri Sri Paduka Tuan Besar Residen Timur dan daerah taklukannya, asisten residen Sumbawa ( Van Der Zijl), Sultan Muhammad Salahuddin Bima, pejabat kesultanan Dompu dan Bima, perwakilan dari kesultanan Sumbawa. Jumlah undangan yang hadir diperkirakan sebanyak 1000 orang.( Kahrul Zaman, Riwayat Kesultanan Dompu. 1934-1947).

Pada masa penggabungan Dompu ke Bima, terjadi migrasi besar-besaran orang Bima ke wilayah Dompu termasuk ke kawasan Pekat dan Tambora. Migrasi itu dilakukan untuk menggarap lahan-lahan kosong yang ada di Dompu, Pekat, Tambora dan sekitarnya. Orang-Orang Bima yang bermigrasi ke Dompu memberikan nama kampug baru mereka di Dompu dengan nama kampung asalnya seperti Rasanae, Monta, Wawo, Renda, Simpasasi, Wawonduru, O’o, kampo Raba dan lain-lain.

Program transmigrasi yang digulirkan Pemerintah mengisi peradaban baru tanah Tambora dan Pekat. Tambora berangsur-angsur dihuni oleh orang-orang baru dari Bima, Dompu, Sumbawa, Sulawesi, Bali, Lombok, Jawa, Manggarai dan berbagai etnis lainnya. Tambora menjadi heterogen dengan berbagai arus manusia, bahasa, agama, dan budaya yang berpadu dalam keindahan tanah ini. Letusan daysyat itu pun telah menciptakan surga dunia dalam bidang pariwsata. Tambora masuk dalam wilayah Dompu dan Bima. Sebagian barat dan sisi utara masuk dalam wilayah kecamatan Tambora Kabupaten Bima. Sisi selatan dan sebagian barat masuk dalam wilayah kecamatan Pekat Dompu.

Ada tiga etnis yang dominan di Tambora, baik yang berada di wilayah kecamatan Tambora Bima maupun Pekat Dompu. Tiga etnis itu adalah Mbojo, Bali dan Sasak. Etnis Mbojo memang sudah lama mendiami Tambora karena kegiatan bertani dan berladang. Namun menurut Bapak H. Abdul Munir di desa Calabai, migrasi orang Bima paling banyak adalah pada periode akkhir penjajahan Belanda, Jepang hingga era tahun 70an. Orang-orang Bima kebanyakan bertani dan berladan serta nelayan dan tukang. Ada juga yang menjadi guru dan TNI Polri yang mengabdi dan menetap di Tambora. “ Ada juga yang kesini sebagai tempat pelarian karena tidak mampu bayar pajak, patah hati dengan pacar, DPO Polisi, pokoknya mereka meninggalkan masalah di kampung dan memulai kehidupan baru di sini. “ Tutur H. Abdul Munir, mantan KCD Dikbud Pekat dan Kepala Sekolah di beberapa SDN di wilayah Pekat.

Pada era tahun 1953 hingga 1965, pasukan gerilya dari kelompok Kahar Muzakar di Sulwesi Selatan pun hijrah ke Tambora. Mereka awalnya berlabuh di Pekat. Ketika hendak menuju Pulau Moyo, suasana sudah gelap dan akhirnya mereka berlabuh di Calabai. Nama Calabai pun diberi nama oleh anggota gerilya Kahar muzakar ini. Calabai dalam bahasa Bugis berarti banci atau waria. “ Karena mereka tanggung untuk ke pulau Moyo, mereka menetap di Calabai yang berarti di antara dua keinginan yaitu kembali ke pekat dan ke pulau Moyo. “ Kisah H. Abdul Munir.

Arus transmigran dari Bali dan Lombok mulai berdatangan pada era tahun 80 an. Mereka menghuni desa-desa di wilayah Kempo dan Pekat Dompu dan di kecamatan Sanggar dan Tambora Kabupaten Bima. Para transmigran ini semakin lama semakin banyak. Kehadiran warga Lombok dengan bahasa dan budayanya, semakin menambah kemajemukan Tambora, demikian pula warga Bali dengan agama, bahasa dan budayanya. Mereka berbaur menghirup udara Tambora, dan mencicipi hasil alam tanah ini.

Kemajemukan Tambora harus terus dipupuk dan dipelihara dalam bingkai kebersamaan, saling asah, asih dan asuh. Keberagaman adalah sebuah rahmat. Dalam kerangka itu, sikap tenggang rasa, saling menghormati perbedaan, mengharagai satu sama lain mutlak diperlukan untuk menjaga heterogenitas Tambora. Jika hal itu tidak dapat dijaga, maka akan menjadi “ bom waktu “ yang sewaktu waktu akan meledak dan menjadi bencana. Menurut saya, ada dua hal yang akan menjadi bibit bencana besar di Tambora yaitu konflik etnis dan dampak buruk dari perladangan liar. Jika dua hal itu tidak dapa dijaga, maka bencana akan datang dan lebih dahyat daripada letusan Tambora 1815.

( Bersambung )

Sumber foto : Anonim (Alan Malingi)

Sebelumnya :
Mengenang Bencana April 1815 (Bagian 1)
Penulis : Alan Malingi
………….Tahun-tahun setelah letusan Tambora adalah tahun-tahun tersulit yang dialami kerajaan Sanggar, Dompu dan Bima.Kelaparan merajalela, musim yang tidak menentu, wabah dan penyakit merajalela akibat abu vulkanik Tambora, para petani mengalami gagal tanam maupun gagal panen. Pada kondisi sulit ini, rakyat Bima kehilangan pemimpin yang penuh kharismatik yaitu Sultan Abdul Hamid Muhammadyah, sultan Bima ke-9 yang memerintah dari tahun 177301819. Tongkat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya Sultan Ismail Muhammadsyah dan memerintah hingga tahun 1854.

Ketika Ismail naik tahta, kekalutan ekonomi terus melanda. Diperparah lagi dengan kondisi di perairan laut Flores dan sekitarnya dipenuhi para bajak laut atau yang dikenal dengan “Tabelo”. Perairan Sulawesi juga tak luput dari serangan Tabelo. Suasana di laut semakin kacau. Kampung-kampung dan pulau-pulau tak luput dari serangan. Harta benda dijarah. Jiwa manusiapun berguguran. Para penghuni pulau banyak yang mengungsi mencari tempat yang aman.

 Perairan selat Sape dan sekitarnya hingga di wilayah kerajaan Sanggar diserang Tabelo yang dikenal oleh orang-orang Bima dengan Pabelo. Serangan Pabelo memaksa Sultan Ismail membentuk pasukan khusus menumpas Pabelo. Pasukan itu diberinama “Suba Ngaji”. Tugas khusus lasykar ini adalah menumpas Pabelo dan mengamankan sultan beserta keluarganya dari Pabelo.

Pabelo memporak-porandakan kerajaan Sanggar yang belum pulih dari amukan Tambora. Rakyat yang tidak berdaya diangkat dengan paksa dan dijadikan budak belian sebagai salah satu komoditi dagang dalam pasar perompak. Kesengsaraan rakyat Sanggar digoreskan oleh peneliti ilmu alam bernama Coffs asal Belgia. Dalam catatan hariannya sebagaimana dikutip H.Abdullah Tayib, BA dalam buku Sejarah Bima Dana Mbojo halaman 239 sebagai berikut :

“ Dia bercakap-cakap dalam bahasa Melayu yang cukup bagus.Dia harus bercocok tanam sendiri dan dia sendiri yang memotong kayu bakar dan memikulnya pulang. Saya merasa kasihan selalu.”

Coffs menceritakan tentang kondisi Raja Sanggar yang jatuh bangun menghadapi kesulitan ekonomi akibat amukan Tambora maupun serangan bajak laut itu. Inilah yang menjadi sebab kenapa kerajaan Sanggar tidak mampu bangkit dari kedaulatannya akibat amukan Tambora dan diperparah oleh serangan bajak laut. Setengah abad kemudian, kerajaan ini akhirnya bergabung dengan kerajaan Bima tepat pada tahun 1926.

Ketika para Pabelo memasuki perairan Sape, lasykar Suba Ngaji  menumpas Pabelo. Dengan kekuatan penuh dibawah pimpinan Jeneli Parado dan Bumi Waworada, pabelo akhirnya dapat ditumbangkan dan kepala pimpinannya dibawa ke hadapan Sultan Ismail. Suba Ngaji terus bergerak menunpas para Pabelo di setiap perairan Bima. Sehingga sejak saat itu Bima aman dari serangan Pabelo.

Setelah penumpasan Pabelo, Sultan Ismail mulai memperbaiki kondisi ekonomi kesultanan Bima. Sawah-sawah baru dicetak, tambak-tambak dibuat, dan dilakukan pembenahan di segala bidang. Kesultanan Bima akhirnya mampu keluar dari krisis akibat letusan Tambora.

( Bersambung )

MARI themes

Diberdayakan oleh Blogger.